Posted by: ristionok | July 5, 2011

TUJUH KESALAHAN YANG BIASA DILAKUKAN GURU

Tulisan ini saya tulis sebagai rasa keprihatihan saya sebagai guru terhadap kenerja guru yang kurang maksimal. Penulis sadar bahwa kinerja buruk ini tidak disengaja tetapi lebih dikarenakan fakor keterbatasan dari guru itu sendiri. Tuisan ini bukan berarti mengecilkan pengabdian guru yang sudah mengabdi, mendidik, mengajar dengan ikhlas menurut versi mereka. Hal ini semata-mata untuk intropeksi kesalahan yang biasa kita lakukan dalam mengajar dan mendidik siswa kita sehingga kita dapat memperbaiki diri kita dan dan umumnya pada anak dididk kita. Penulis berkeyakinan bahwa jika kita mengajar dengan baik berdasarkan kasih sayang akan melahirkan generasi yang cerdas dan bermoral dan beradap. Ketika kita mengajar dengan kasih sayang maka akan melahirkan sifat amanah, bahwa mengajar adalah ibadah yang berarti investasi amal kita yang akan kita petik nanti di akherat.

Tujuh Kesalahan Guru yaitu:

  1. Menganggap anak nakal adalah musuh dalam mengajar.

Anak nakal adalah yang biasa kita dapati dalam setiap generasi, anak nakal adalag asset yang membuat pikiran kita berkembang. Jika kita selalu selalu berpikir positif terhadap yang bersifat negative maka yang negative itu akan berubah menjadi positif. Kita anggap aja anak nakal itu seperti kita mendidik anak kita sendiri, walaupun nakal, bodoh toh itu anak kita, itu amanah yang harus kita terima dari Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Kita tetap mencintai walaupun anak kita ini bodoh, nakal. Kita tutupi aib anak kita dengan kasih saying. Anak bodoh, nakal bukan tidak bisa diubah, yang dapat merubah adalah kita orang tuanya. Kalau kita mengajar dengan ketulusan Insya Allah ada jalan pencerahan terhadap murid kita, asal dalam mengajar ada ikatan emosi antara anak dan guru.

2.  Menganggap anak yang ramai ketika belajar merupakan rintangan dalam mengajar

Persepsi biasa dilakukan guru ketika melihat siswanya ramai atau gaduh dalam menerima pelajaran, siswa dimarahi karena guru terganggu dalam menjelaskan materi yang akan disampaikan, padahal siswa saat itu dengan beradaptasi pemikiran dengan temannya, berinteraksi dengan teman ketika pelajaran itu disampaikan.

3. Tidak ada ikatan batin dan emosional dengan anak ketika mengajar

Tidak ada rasa memiliki bahwa siswa yang diajar adalah anak orang lain, anggapan ini terus menghinggapi batin guru sehingga dia tidak memiliki rasa sayang terhadap anak didiknya, terasa berat dalam mengajar, tidak pernah memikirkan masa depan siswa akan jadi apa setelah lulus.

4. Menganggap alam pikiran anak sama dengan guru

Kita perlu ingat ketika kita menjadi anak-anak. Anak-anak suka nonton film kartun, permainan, sedangkan kita sekarang ( Guru ) sudah tidak suka film seperti itu. Ini yang membedakan antara kita dengan anak didik kita. Sehingga yang perlu kita luruskan adalah kita harus mengikuti alam pikiran anak didik kita bukan sebaliknya anak didik mengikuti alur pikir kita.

5. Kurang intropeksi diri bahwa dirinya ketika jadi siswa juga kurang pandai atau nakal

Introspeksi adalah proses pengamatan terhadap diri sendiri dan pengungkapan pemikiran dalam yang disadari, keinginan, dan sensasi. Proses tersebut berupa proses mental yang disadari dan biasanya dengan maksud tertentu dengan berlandaskan pada pikiran dan perasaannya. Bisa juga disebut sebagai kontemplasi pribadi, dan berlawanan dengan ekstropeksi yang berupa pengamatan terhadap objek-objek di luar diri. Introspeksi mepunyai arti yang sama dengan refleksi diri.

Pernahkan kita intropeksi ketika anak didik kita nakal.kita juga dulu pernah seperti itu, jadi ketika anak didik kita nakal kita tidak perlu marah. Kita harus intropeksi pada diri kita ketika jadi siswa sering nakal kadang juga tidak pandai dalam pelajaran tertentu.

6. Sering marah ketika pelajaran yang diajarkan tidak/sukar dimengerti anak didik.

Pengertian marah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perasaan tidak senang. Sedangkan kemarahan menurut Wikipedia Bahasa Indonesia adalah  suatu emosi yang secara fisik mengakibatkan antara lain peningkatan denyut jantung, tekanan darah, serta tingkat adrenalin dan noradrenalin. Apabila seseorang dilanda kemarahan biasanya sulit mengendalikan emosi yang meletup-letup. Kalau sudah begitu, tanpa sadar sering terucap caci maki yang menyakitkan hati sehingga kadang bisa berujung pada perkelahian fisik.

Banyak hal di lingkungan sekitar kita yang bisa menjadi pemicu kemarahan. Hal sepele pun kadang bisa menjadi pemicu kemarahan tersebut. Misalnya saja : siswa tidak cepat memahami penjelasan guru walaupun sudah dijelaskan berulang-ulang, sehingga guru itu jengkel dan berucap “ dasar otak udang, anak goblok.

Nah, kalau sudah emosi biasanya kita kehilangan kontrol diri. Bisa jadi akan muncul perkataan dari mulut kita seperti ini, “Karepmu lah wong dudu anakku” dan disusul sederet perkataan lainnya sebagai senjata ampuh untuk membenarkan pembelaan diri kita tersebut.

7. Terlalu ikut campur urusan orang lain

Sebagai contoh ketika seorang siswa bersalah/melakukan kesalahan kepada seorang guru maka  yang berhak menangani siswa tersebut adalag guru yang bersangkuta atau yang berhak menghukum adalah guru itu sendiri dan guru yang lain tidak boleh ikut campur atau bahkan ikut menghukum siswa tersebut. Kita biasa melihat dilingkungan sekolah/madrasah jika anak itu bersalah terhadap seorang guru, maka guru yang lain ikut campur, dan parahnya lagi ikut menghukum siswa tersebut padahal dia tidak melakukan kesalahan pada guru tersebut. Ikut berkomentar terhadap siswa tersebut. Perilaku siswa terhadap setiap guru itu berbeda, dan penghargaan siswa terhadap setiap guru juga berbeda. Coba kita balik menengok kebelakang ketika kita jadi siswa, kita bisa menilai bahwa guru itu dalam mengajar penuh dengan kasih sayang, guru itu dalam mengajar sukanya hanya marah-marah yang benar, yang pandai hanya dia sendiri sehingga secara otomatis siswa menjadi takut dan tidak ada ikatan batin dengan guru tersebut. Ada juga guru yang mengajar selalu ditinggal, kasih tugas lalu pergi tapi menuntut muridnya pandai. Mari kita dudukkan masalah ini secara proporsional, jangan ikut campur ketika anak bermasalah dengan salah satu guru, karena anak juga mempunyai penilaian yang berbeda terhadap kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: